Selasa, 19 September 2017

Pembangunan Di Wilayah Lembak Jadi Prioritas

SHARE

BENGKULU - Wilayah Lembak menjadi salah satu daerah di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu mendominasi ciri-ciri desa tertinggal seperti disebutkan Badan Perencanaan Pembanguan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia (RI). Hal ini merujuk dari indikator-indikator daerah tertinggal, yakni fasilitas pendidikan dan infrastruktur pendukung yang ada.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Rejang Lebong, Slamet Riadi menjelaskan untuk kategori fasilitas pendukung yang disebut dengan jalur menuju lokasi atau jalan memang masih ada di setiap desa, namun banyak jalan desa sudah banyak yang rusak parah dan juga hanya jalan setapak atau belum mendapat sentuhan pembangunan. Jalan desa yang masih memprihatinkan yang dimaksud diantaranya, Desa Lubuk Alai Kecamatan Sindang Beliti Ulu, tepatnya di Dusun Bandar Agung.

Parahnya untuk ke daerah ini harus melalui sungai dengan jembatan yang sudah sangat rapuh dan di desa tersebut juga ada Dusun Palembang Kecil yang hanya memiliki akses jalan setapak.

Lanjutnya, Desa Air Nau Kecamatan Sindang Dataran yang mengalami hal serupa, untuk infrastruktur vital lainnya untuk di desa masih belum memadai. Ketiga yakni Desa Tajung Gelang Kecamatan Kota Padang, merupakan desa paling ujung di Kota Padang, juga sulit untuk infrastruktur, karena lokasi yang memang cukup jauh. Ada juga Desa Trans Bukit Batu, Kecamatan Kota Padang, dengan kondisi yang serupa.
"Namun untuk beberapa kecamatan lain di Kabupaten Rejang Lebong ini hampir seluruh desa sudah hotmix jalannya atau memadai dan bagus, baik daerah Kecamatan Bermani Ulu raya, atau Bermani Ulu yang juga jauh dari pusat kota," paparnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Rejang Lebong T. Samuji menyampaikan, untuk Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Rejang Lebong setiap desa sudah memiliki SD bahkan satu desa ada yang memiliki Dua hingga Tiga SD, dan untuk SMP kurang lebih seperti SD jumlahnya, bahkan ada satu Kecamatan sudah memiliki 2 sampai 3 SMP. Namun hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah karena jarak sekolah per desa cukup dekat.
“Untuk SD dan SMP di setiap desa tidak akan kekurangan,” terangnya.

Adapun untuk tingkat SMA dan SMK sendiri, sementara ini hanya ada 1 sekolah dalam satu Kecamatan, dan hal ini membuat jelas jika ada penambahan ini cukup dibutuhkan, karena jumlah sekolah SMA tidak sebanding dengan jumlah SD serta SMP.
" Ya jika dibandingkan jelas tidak sebanding namun dari pantauan kami SMA dan SMK banyak memiliki ruang kelas untuk menampung jumlah siswa melanjutkan pendidikannya,” katanya.[sgk/red/E01]
SHARE

Author: verified_user