Kamis, 01 Juni 2017

Hentikan Paham Radikalime Dilingkungan Sekolah #saveCHILDREN

SHARE

JAKARTA, SemarakNews.co.id - Sejak 10 tahun terakhir ini penanaman paham radikalisme dilingkungan sekolah melalui ruang kelas telah berkembang sangat memprihatinkan dan menakutkan dalam proses tumbuh kembang anak baik dalam lingkungan keluarga, sosial dan lingkungan dunia pendidikan..Lingkungan sekolah yang sesungguhnya lingkungan yang mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan telah berubah makna menjadi lingkungan yang penuh dengan kekeradan alias buying. Lingkungan sekilah bukanlsh tempat menabur dan belajar paham kebencian, tetapi justru anti terhadap kekerasan dan intoleransi.

Namun kenyataannya, beberapa tahun terakhir ini, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga pelaksana tugas dan fungsi dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat yang pendiriannya tahun 1998 difasilitasi oleh Kemensos RI dan mendapat Advisor dari Badan Dunia PBB UNICEF dan pemangku kepentingan perlindungan anak di Indonesia yang memberika manda pelayananan advokasi dibidang promosi, penenuhan dan perlindungan Anak di Indonesia banyak menemukan fakta bahwa anak sejak usia dini, sekolah dasar, menengah dan menengah atas diberbagai tempat di Indonesia saat ini telah terjadi krisis solidaritas dan toleransi antar sesama anak yang sering kali dibungkus dengan identitas agama.

Yang sangat memprihatinkan, bahwa saat ini juga banyak anak-anak kita  diruang kelas maupun diluar ruang kelas di eksploitasi untuk kepentingan-kepentingan politik orang dewasa. Tidan jarang anak-anak diajak dan dilibatkan diberbagai aksi demonstrasi tanpa anak mengerti apa yang terjadinshwa dapat mengancam keselamatan anak.

Diluar kesadaran, kita seringkali mengajarkan anak untuk tidak menyukai dan bahkan tidak peduli  terhadap simbol-simbol keberagaman untuk mempersatukan Indonesia, akibatnya dirasakan berdampak terhadap tumbuh kembang prilaku intoleransi diantara sesama anak.

Tidak bisa  dipungkiri pula pada kenyataannya,  banyak anak-anak kita dilibatkan juga dalam kegiatan-kegiatan politik dan aksi-aksi intoleransi yang dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu  yang pada gilirannya anaklah yang menjadi korban.

Oleh sebab itu demi kepentingan terbaik dan masa depan anak dan gerakan nasional perlindungan anak di Indonesia,  Komnas Anak sebutan lain dari Komnas Perlindungan Anak menyeruhkan dan mengajak semua pihak khususnya keluarga dan masyarakat untuk tidak melibatkan anak-anak dalam segala bentuk aksi-aksi untuk kepentingan orang dewasa, termasuk tenaga pengajar seperti guru dan tokoh masyrakat dan tokoh agama agar segera bersama-sama membantu gerakan menghentikan paham yang sengaja menanamkan radikalisme yang mengandung unsur kekerasan, kebencian da intoleransi dan meminta semua pemangku kepentingan perlindungan anak di Indonesia maupun aparatus  pemerintah dan aparatur penegak hukum untuk memberikan perlindungan Anak dari paham radikalisme.

Bersamaan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, Komnas Perlindungan Anak mengajak semua pihak dan  semua pemangku kepentingan (stateholders) perlindungan Anak di Indonesia dan secara khusus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) SeNusantara untuk bangkit secara nasional melawan paham radikalisme, intoleransi, dan kekerasan yang melibatkan anak-anak dalam bentuk apapun di lingkungan sekolah. Ayo..kita selamatkan anak Indonesia sekarang juga (#Savethechildren, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait selaku  Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak di Jakarta.

"Membiasakan mengajar dan menanamkan nilai keberagaman, toleransi dan perbedaan pendapat dalam keluarga dan lingkungan sekolah, adalah salah satu cara menangkal paham radikalisme dan memutus mata rantai kekerasan", demikian ditambahkan Arist.[**]
SHARE

Author: verified_user