Minggu, 08 Januari 2017

Amir Hendi: Mimpi Karyanya Bisa “Parkir” Dikantor Pemerintah Daerah

SHARE


Di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, nama Amir Hendi, warga Desa Irigasi Permu Kecamatan Kepahiang yang terkenal dengan kreatifitasnya dengan memanfaatkan berbagai jenis sampah berbahan baku kertas menjadi produk bernilai ekonomis dan seni tinggi, yakni menjadi lukisan 3 dimensi. Di usia ke 70 tahun, Amir berharap jika karya yang ia ciptakan bisa “parkir” nan menghias megah dikantor Bupati Kepahiang.

Bersama kita ketahui, saat ini kantor Bupati Kepahiang terpampang miniatur Pohon Sakura yang menjadi hiasan di kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepahiang. Pohon Sakura adalah tumbuhan khas dari Jepang yang tak ada hubungannya dengan simbol dan kebangaan daerah seperti Bunga Raflesia atau Bunga Kibut yang tumbuh endemik dan hanya ada di Provinsi Bengkulu. Bunga Bangkai dan Bunga Raflesia sering tumbuh di kawasan Kepahiang dan Bengkulu Tengah. Alangkah baiknya jika Pohon Sakura tersebut diganti dengan Bunga Kibut dan Bunga Raflesia dan menjadi icon baru dikantor Bupati Kepahiang.

Amir mengatakan, bahwa Bunga Raflesia dan Bunga Kibut adalah jenis Flora khas Kepahiang. Sangatlah indah jika kedua jenis bunga khas Bengkulu tersebut kita promosikan bersama. Amir mengakui, dirinya belum pernah membuat patung Bunga Kibut dan Bunga Raflesia dengan ukuran sangat besar, namun jika memang diharapkan maka ia bersedia dan sanggup membuatnya untuk Pemda Kepahiang. Taksiran Amir, membuat miniatur Bunga Kibut dengan tinggi lebih kurang 2 meter tak akan menghabiskan banyak biaya, hanya membutuhkan kertas bekas sebanyak 16 Kilogram, beberapa kilo lem kayu dan cat. Sangat murah dan memiliki nilai seni tinggi yang akan bias dikenang dan dikenal oleh para pejabat dari luar daerah Bengkulu jika sempat datang ke kantor Bupati Kepahiang.


“Sepengalaman saya, Kabupaten Kepahiang dikenal dengan ciri khas Bunga Kibut dan Bunga Raflesia karena bunga ini memang tumbuh ditanah Kepahiang. Apalagi saat ini, Bunga Kibut sudah ada yang melestarikannya di salah satu penangkaran milik warga Kepahiang. Mestinya, kita harus kenal dulu dengan bunga ini. Dengan adanya miniatur Bunga khas yang kita buat dan terpajang di Kantor Bupati setidaknya bisa jadi bahan promosi,” ujar Amir.

Sejarah Singkat

Amir menceritakan awal mulanya menggeluti karya seni lukis dan patung 3 dimensinya yang berbahan baku kertas bekas. Bermula dengan pengalaman membuat peta dari bubur kertas sewaktu menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kepahiang yang berbahan baku kertas Koran bekas yang dijadikan bubur kertas kemudian dengan dicampurkan dengan lem sehingga bisa dibentuk menjadi kerajinan berupa miniature peta Negara Indonesia. Selain itu, inspirasi pembuatan kerajinan dari limbah kertas ini,juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Amir melihat banyak tumpukan sampah kertas yang berserakan tak berguna, seperti kardus bekas, koran bekas, kotak rokok, dan sejenisnya. Dengan kreatifitasnya, Amir coba memanfaatkan sampah kertas untuk membuat lukisan 3 dimensi. Untuk membuat lukisan tersebut tidaklah butuh modal besar dan proses yang rumit.

Bahan bakunya hanya sampah kertas bekas seperti koran, karpet telur, kotak rokok, kardus atau lainnya yang mudah ditemukan. Sampah kertas tersebut direndam sampai lembut, lalu ditumbuk halus seperti bubur. Kendala yang ditemui Amir saat itu adalah setelah beberapa hari, hasil karyanya mengeluarkan aroma tidak sedap. Hal ini disebabkan pembusukan hasil rendaman kertas. Bukannya kebingungan, Amir malah lebih termotivasi untuk bereksperimen mencari solusi dari bau yang menyengat tersebut. Akhirnya solusi ditemukan, yakni dengan mencampuri lem sebagai campuran bubur kertas dengan Air Cuka.

“Bubur kertas itu diaduk dengan lem dari sagu yang dicampur Air Cuka. Air Cuka diperlukan agar jamur dan bakteri pembusukan tidak dapat berkembang biak sehingga menimbulkan bau busuk.” ujar Amir.

Lukisan biasanya dibuat di atas triplek yang diukir bentuknya menggunakan sendok kecil. Setelah selesai, lukisan dijemur hingga kering lalu diberi warna dari cat kayu atau semprot, dan kembali dijemur hingga kering. Satu lukisan butuh waktu paling lama satu minggu dalam pengerjaannya. Tapi, kalau sudah terampil, satu kali pembuatan bisa lima lukisan dalam seminggu. Artinya, sebulan bisa 20 lukisan yang dibuat.

Amir tidak hanya membuat lukisan 3 dimensi berupa Bunga Raflesia, Bunga Kibut (amorphophallus) dan lainnya, tetapi juga bisa membuat lukisan pemandangan, orang, dan hewan. Bahkan, suami Zubaidah ini pun memanfaatkan sampah kertas untuk membuat topeng, patung dan miniatur. Sejumlah karyanya ini sering dibeli kalangan pejabat sebagai hiasan di rumah dan kantor. Tidak sedikit juga yang dibeli untuk dijadikan suvenir ke luar Provinsi Bengkulu, seperti Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat dan provinsi lainnya. Amir menuturkan, cukup banyak orang bekerja mengumpulkan sampah kertas dan lainnya sebagai pendapatan. Sayang, sampah-sampah tersebut tidak dimanfaatkan untuk dibuat beragam produk yang bernilai guna.

“Untuk membuat satu lukisan, biasanya saya membutuhkan sekitar 0,5 Kilogram kertas. Kalau hanya berupa kertas bekas saja yang dijual, pendapatan yang diperoleh mungkin hanya Rp 2.000-Rp 5.000. Tapi kalau dibuat lukisan, harganya bisa menjadi puluhan bahkan ratusan ribu rupiah,” kata Amir yang menjual satu lukisannya hingga Rp 600.000.

Mantan guru biologi dan pendidikan jasmani ini berpendapat, ada baiknya pemerintah daerah bisa memfasilitasi para pengumpul barang bekas dengan memberikan pelatihan. Amir pun bersedia menjadi pelatih tanpa dibayar.


“Saya optimis, keterampilan pemanfaatan sampah bisa memberikan pendapatan yang cukup besar dan masalah sampah akan teratasi,” katanya.

Sejauh ini, kakek enam cucu ini telah memberikan pelatihan kepada sejumlah warga di desanya dan desa tetangga. Hasilnya, sudah banyak warga yang mampu membuat gantungan kunci dan suvenir pernikahan dari sampah kertas. 


“Saya sangat berharap apa yang saya lakukan ini bisa menginspirasi dan memotivasi masyarakat dan pemerintah. Sehingga, permasalahan sampah, pengangguran dan kemiskinan dapat diminimalisir,” paparnya.

Lebih Banyak Laku Produk Lokal

Sejumlah lukisan yang dibuat, awalnya memang sebagai hiasan rumah saja. Ternyata, tidak sedikit orang yang datang berbelanja diwarungnya melihat, dan berminat untuk membeli. Amir pun berpikir untuk menjadikannya sebagai usaha sampingan, selain usaha warung manisan yang ia geluti. Bahkan yang banyak membeli karyanya adalah wisatawan dari luar Kabupaten Kepahiang, untuk dijadikan cindera mata.


“Akhirnya saya berinisiatif membuat motif Bunga Kibut yang lebih dikenal dengan Bunga Bangkai dan bunga Raflesia, eeh ternyata laku terjual, maka saya lebih fokus sehingga menemukan inovasi-inovasi baru untuk mulai membuat lukisan dengan motif Bunga Raflesia  dan Bunga Bangkai khas Bengkulu sebagai oleh-oleh wisatawan luar yang datang ke Kepahiang,” tutup Amir.[**]
SHARE

Author: verified_user