Wednesday, February 3, 2016

Kasus DBD, Fogging Tidak Menyelesaikan Masalah

SHARE

BENGKULU, SemarakNews.co.id - Kasus Demam Berdarah Dongue (DBD) di Kabupaten Rejang Lebong (RL) telah mencapai level mengkhawatirkan. Terbaru, sudah ada 2 Kecamatan di RL telah dinaikkan level kewaspadaannya masuk tahap Kejadian Luar Biasa (KLB). Sedangkan tindakan pemberantasan dan penekanan kembang biak nyamuk jenis penular DBD ini, masih kurang effektif dengan fogging dan abatenisasi.

Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) RL sendiri mengakui kewalahan dalam memberantas sarang nyamuk dengan tingkat penyebarannya yang tinggi pada Desember, Januari, dan Februari. Salah satu tindakan yang terus dilakukan oleh Dinkes RL adalah melakukan fogging ke sejumlah fokus titik tertentu yang dianggap penyebarannya cukup tinggi. Namun, fogging yang dilakukan terus menerus ini, hingga saat ini belum berdampak cukup baik terhadap penurunan penyebarannya. Malah bisa berakibat menjadi lebih parah, yakni terciptanya nyamuk yang sudah resistant terhadap insektisida bahan dari fogging tersebut.

"Fogging tidak menyelesaikan masalah. Kebiasaan bersih dan hidup sehat lah kunci dari pemberantasan sarang nyamuk penyebar DBD ini," jelas Agung Gunawan, Kepala Dinkes RL, Kamis (04/02/2016).

Hingga saat ini, secara bertahap pihak Dinkes RL terus mengurangi jeda dari pelaksanaan fogging. Menurut Agung, kandungan zat fogging yang jika dilakukan terus menerus bisa berakibat pada kesehatan manusia.

"Insektisidanya fogging itu, tidak mudah terurai di udara maupun di tanah, hal ini bisa berakibat pada pencemaran lingkungan," jelas Agung.

Selain itu, kuota untuk fogging pun harus dibatasi, yakni untuk melakukan fogging hanya berkuota 100 titik fokus saja. Selain biaya untuk melakukan fogging termasuk tinggi di setiap titiknya, yakni sebesar Rp. 450 ribu per satu titik, pembatasan fogging juga diharapkan tidak menimbulkan efek lain yang lebih parah selain DBD.

"Untuk fogging sendiri setiap tahunnya memang kita batasi untuk 100 titik fokus fogging saja, namun terkadang kita juga tidak bisa mengabaikan permintaan masyarakat terkait permintaan fogging ini. Sementara ini, kita tidak menghentikan fogging, tapi lebih memfokuskan di titik-titik yang dianggap kritis penyebaran DBD," jelas Agung.[**]
SHARE

Author: verified_user