Jumat, 05 Februari 2016

Terungkap, Ada 67 Anak Terlantar di Rejang Lebong

SHARE

BENGKULU, SemarakNews.co.id - Awal Januari 2016, ternyata anak terlantar yang ada di Kabupaten Rejang Lebong (RL) sebanyak 67 anak. Kebanyakan, anak-anak tersebut adalah anak yang terpaksa putus sekolah lantaran faktor ekonomi keluarga. Terbaru, anak – anak ini justru menempuh jalan pintas guna mengurangi beban hidupnya dengan cara mabuk-mabukan dengan lem merk Aibon maupun obat batuk cair jenis Komix.

Terkait solusi sebagai penangangan 67 anak terlantar ini. Beberapa elemen masyarakat RL meminta kepada dinas terkait untuk membuat rumah singgah ataupun sarana sosial sejenisnya.

Kepala Dinas (Kadis) Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sosnakertrans) RL, Bambang Irawan melalui Kepala Bidang (Kabid) Sosial, Kandar Sukandar mengakui jika hingga saat ini pihaknya belum pernah mengajukan permohonan pembentuakan atau pembuatan rumah singgah kepada pemerintah daerah RL. Bahkan, untuk tahun 2016 ini, item anggaran khusus untuk penanganan anak terlantar juga ditiadakan dari APBD RL.

“Tahun-tahun sebelumnya ada. Seperti tahun lalu, anak-anak terlantar yang terdata kita beri pelatihan keterampilan. Tetapi, tahun ini kita tidak memiliki dana untuk penanganan anak terlantar ini,” ujar Kandar.

Diakui Kandar, RL memang sangat membutuhkan rumah singgah untuk lokasi pembinaan khusus bagi anak terlantar. Tidak hanya itu, RL sebagai salah satu kabupaten tertua di provinsi Bengkulu sudah selayaknya memiliki panti sosial.

“Dengan adanya panti social, tidak hanya anak-anak terlantar saja yang bisa kita bina, melainkan para pekerja prostitusi serta anak jalanan juga dapat kita bina secara khusus,” ujar Kandar.

Diwawancarai terpisah, Sutrimah (30), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kementerian Sosial pusat yang bertugas di kabupaten Rejang Lebong mengatakan, jumlah anak terlantar akan terus bertambah seiring dengan semakin menurunnya tingkat perekonoomian warga RL yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Untuk anak-anak terlantar yang sudah kita punya datanya ada sebanyak 67 orang. Sedangkan, warga yang terlantar dari pemerintah maupun keluarga ada sekitar 20 orang. Sebagian besar, warga yang terlantar ini hidup di jalanan dengan pekerjaan mengemis,” ujar Sutrimah.

Sutrimah menambahkan, data tersebut sudah berulang kali disampaikan oleh pihaknya kepada Dinas Sosnakertrans RL untuk segera ditindaklanjuti. Namun, kendala terbesar dalam penanganannya adalah wadah untuk memberikan pembinaan kepada para anak-anak dan warga terlantar tersebut.

Menurut Sutrimah, kondisi ini dinilai penting untuk ditanggapi oleh Pemerintah Daerah (Pemda) RL dengan mendirikan sebuah rumah singgah sebagai lokasi penanganan sosial bagi anak-anak tersebut secara bertahap.

“Kami menilai jika RL ini sudah sepatutnya memiliki rumah singgah yang nantinya dijadikan sebagai salah satu wadah pembinaan kepada mereka. Sehingga, mereka tidak lagi menempuh jalan pintas dengan mabuk-mabukan atau menjalani profesi sebagai pengemis,” ujar Sutrimah.

Sutrimah menjelaskan, anak-anak terlantar yang ada di RL ini harus segera disikapi secara serius. Pasalnya, jika tidak ada penanganan khusus maka tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh terhadap sisi keamanan dan sosial di RL ini.

“Mereka wajib diberi pendidikan. Dengan adanya rumah singgah, maka mereka dapat dibina secara bertahap untuk meninggalkan kebiasaan mereka yang terlanjur ke arah negatif,” ujar Sutrimah.[**]
SHARE

Author: verified_user